Perencanaan Pembelajaran

by -

Pada postingan sebelumnya telah dibahas landasan awal bagaimana tuntutan seorang guru profesional untuk menghadirkan sebuah proses pembelajaran yang bermutu, yang didasari pada Pasal 20 UU No.14/2005. Untuk mencapai proses pembelajaran yang bermutu, seorang guru dituntut pula untuk dapat menyusun perencanaan yang matang untuk memastikan bahwa pembelajaran yang akan dilaksanakan sesuai dengan target yang hendak dicapai.

Perencanaan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, berasal dari kata dasar rencana yang artinya konsep, rancangan, atau program, dan perencanaan berarti proses, perbuatan, cara merencanakan. Para ahli berbeda pendapat dalam memberikan batasan atau definisi tentang perencanaan, Atmowidjoyo (2009:20) membuat rumusan definisi perencanaan berdasarkan pendapat para ahli seperti Cunningham (1982), Steller (1983), dan Robbins (1982), bahwa perencanaan adalah suatu cara yang memuaskan untuk membuat suatu kegiatan dapat berjalan dengan baik, disertai dengan berbagai langkah yang antisipatif guna memperkecil kesenjangan yang terjadi sehingga kegiatan tersebut mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Secara spesifik kaitannya dengan perencanaan program pendidikan, Mulyasa (2012:20) berpendapat sedikitnya memiliki dua fungsi utama, perencanaan, merupakan upaya sistematis yang menggambarkan penyusunan rangkaian tindakan yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan organisasi atau lembaga dengan mempertimbangkan sumber-sumber yang tersedia atau sumber-sumber yang dapat disediakan; kedua, perencanaan merupakan kegiatan untuk mengerahkan atau menggunakan sumber-sumber yang terbatas secara efisien dan efektif untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Ada beberapa faktor yang patut untuk dipertimbangkan dalam penyusunan perencanaan, yang dikenal dengan prinsip SMART yang diperkenalkan oleh George T. Doran pada tahun 1981, yaitu :

  • Specific, yang berarti sebuah perencanaan harus jelas apa maksud dan tujuanya beserta ruang lingkupnya.
  • Measurable, yaitu suatu tingkat keberhasilan yang harus dapat diukur dari program kerja dan rencana yang dibuat.
  • Achievable, yaitu sesuatu tersebut bisa tercapai dan diwujudkan, bukan hanya sekedar fiktif dan khayalan belaka.
  • Realistic, yaitu sesuatu yang sesuai dengan kemampuan dan sumber daya yang ada, harus seimbang tetapi tetap ada tantangan didalamnya.
  • Timely, yaitu ada batas waktu yang jelas, sehingga bisa dinilai dan dievaluasi.

Dalam hal perencanaan pembelajaran, berdasarkan Permendikbud Nomor 103 Tahun 2014 Tentang Pembelajaran pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah bahwa tahap pertama dalam pembelajaran yaitu perencanaan pembelajaran yang diwujudkan dengan kegiatan penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP).

Selanjutnya dipertegas dalam Permendikbud Nomor 22 Tahun 2016 Tentang Standar Proses, bahwa perencanaan pembelajaran dirancang dalam bentuk Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang mengacu pada Standar Isi. Perencanaan pembelajaran meliputi penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran dan penyiapan media dan sumber belajar, perangkat penilaian pembelajaran, dan skenario pembelajaran. Penyusunan Silabus dan RPP disesuaikan pendekatan pembelajaran yang digunakan.

Silabus merupakan acuan penyusunan kerangka pembelajaran untuk setiap bahan kajian mata pelajaran. Sedangkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah rencana kegiatan pembelajaran tatap muka untuk satu pertemuan atau lebih. RPP dikembangkan dari silabus untuk mengarahkan kegiatan pembelajaran peserta didik dalam upaya mencapai Kompetensi Dasar (KD). Setiap pendidik pada satuan pendidikan berkewajiban menyusun RPP secara lengkap dan sistematis agar pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, efisien, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. RPP disusun berdasarkan KD atau subtema yang dilaksanakan kali pertemuan atau lebih.

Pada Kurikulum 2013, pengembangan silabus menjadi kewenangan pemerintah, sehingga tugas guru hanya menjabarkannya dalam RPP, dengan memperhatikan Komponen-komponen RPP yang terdiri atas: identitas sekolah; identitas mata pelajaran atau tema/subtema; kelas/semester; materi pokok; alokasi waktu; tujuan pembelajaran; kompetensi dasar dan indikator pencapaian kompetensi; materi pembelajaran; metode pembelajaran; media pembelajaran; sumber belajar; langkah-langkah pembelajaran dilakukan melalui tahapan pendahuluan, inti, dan penutup; dan penilaian hasil pembelajaran.

Prinsip-prinsip yang harus diperhatikan dalam menyusun RPP sebagai berikut;

  1. Perbedaan individual peserta didik antara lain kemampuan awal, tingkat intelektual, bakat, potensi, minat, motivasi belajar, kemampuan sosial, emosi, gaya belajar, kebutuhan khusus, kecepatan belajar, latar belakang budaya, norma, nilai, dan/atau lingkungan peserta didik;
  2. Partisipasi aktif peserta didik;
  3. Berpusat pada peserta didik untuk mendorong semangat belajar, motivasi, minat, kreativitas, inisiatif, inspirasi, inovasi dan kemandirian;
  4. Pengembangan budaya membaca dan menulis yang dirancang untuk mengembangkan kegemaran membaca, pemahaman beragam bacaan, dan berekspresi dalam berbagai bentuk tulisan;
  5. Pemberian umpan balik dan tindak lanjut RPP memuat rancangan program pemberian umpan balik positif, penguatan, pengayaan, dan remedi;
  6. Penekanan pada keterkaitan dan keterpaduan antara KD, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indicator pencapaian kompetensi, penilaian, dan sumber belajar dalam satu keutuhan pengalaman belajar;
  7. Mengakomodasi pembelajaran tematik-terpadu, keterpaduan lintas mata pelajaran, lintas aspek belajar, dan keragaman budaya;
  8. Penerapan teknologi informasi dan komunikasi secara terintegrasi, sistematis, dan efektif sesuai dengan situasi dan kondisi.

Demikian sekilas tentang perencanaan pembelajaran yang menjadi tugas seorang guru. Pada prinsipnya runtutan perencanaan pembelajaran ini merupakan upaya sistematis yang mestinya dilakukan seorang guru sebagai upaya mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran yang efektif dan efesien.

Author: Fathurrohman

Gravatar Image
Tenaga Pendidik Pada Madrasah Ibtidaiyah